CAKRAWALAJAMPANG — Galendo, camilan tradisional yang terbuat dari endapan minyak kelapa, kini semakin sulit ditemui dan mulai terlupakan oleh generasi muda salah satunya di Kabupaten Sukabumi.
Makanan asal Ciamis ini bertekstur lembut dan bercita rasa gurih-manis ini dulunya sangat populer sebagai oleh-oleh khas daerah Priangan Timur. Namun, perkembangan industri makanan modern dan menurunnya produksi minyak kelapa tradisional membuat keberadaan galendo kian meredup.
Menurut para pengrajin, menurunnya minat masyarakat untuk mengolah minyak kelapa secara tradisional menjadi salah satu penyebab utama. Proses pembuatan galendo membutuhkan waktu lama dan dilakukan bersamaan dengan produksi minyak kelapa, yang saat ini telah banyak digantikan dengan metode pabrikan.
“Sekarang lebih banyak orang membeli minyak kemasan, jadi limbah galendo makin sedikit. Produksi kami pun ikut berkurang,” ujar salah satu pengrajin galendo asal Kecamatan Ciracap, Jum’at (14/11/2025).
Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Pentingnya Akurasi Data dalam Pengambilan Kebijakan NasionalDi sisi lain, perubahan selera kuliner masyarakat juga turut memengaruhi eksistensi makanan ini. Banyak konsumen, terutama anak muda, lebih tertarik pada camilan modern yang dianggap lebih praktis dan bervariasi. Tanpa inovasi produk dan promosi yang kuat, galendo semakin tersingkir dari pasar lokal.
Galendo bukan hanya makanan, ia merupakan simbol budaya sekaligus bukti kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan hasil alam. Jika tidak ada upaya nyata untuk melestarikannya, bukan tidak mungkin camilan khas ini hanya akan menjadi cerita dalam buku sejarah kuliner Nusantara.












