Kabupaten Sukabumi

Jembatan Leuwi Dinding Rubuh, Akses Penghubung Antar Dua Kecamatan Lumpuh Total

×

Jembatan Leuwi Dinding Rubuh, Akses Penghubung Antar Dua Kecamatan Lumpuh Total

Sebarkan artikel ini

CAKRAWALAJAMPANG – Akses utama penghubung antarwilayah di Kabupaten Sukabumi lumpuh total. Jembatan gantung Leuwidinding yang menghubungkan Kampung Leuwidinding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, dengan Kampung Kebonjati, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, rubuh pada Rabu, 21 Januari 2026.

Jembatan sepanjang sekitar 48 meter dengan lebar 1,20 meter tersebut selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga lintas desa, mulai dari Desa Tanjungsari, Sirnaresmi, Parakanlima Kecamatan Cikembar, hingga Wangunreja dan Sukamaju Kecamatan Nyalindung.

Baca Juga: Pembangunan Rampung, SMPN 5 Ciracap Rayakan Isra Mi’raj dengan Syukuran Gedung Baru

Sejak ambruk, jembatan tidak bisa dilalui sama sekali. Aktivitas warga terganggu, sementara puluhan pelajar terpaksa menyeberangi Sungai Cimandiri menggunakan perahu karet demi tetap bisa bersekolah.

Untuk sementara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Kabupaten Sukabumi menurunkan perahu karet sebagai akses darurat bagi pelajar dan warga.

Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah, menyebut para pelajar yang menggunakan perahu karet merupakan warga Desa Tanjungsari yang bersekolah di wilayah seberang sungai, baik di Desa Sirnaresmi Kecamatan Gunungguruh maupun Desa Parakanlima Kecamatan Cikembar.

“Jembatan rusak total dan tidak bisa dilalui. Padahal ini satu-satunya akses utama warga dari beberapa desa,” ujarnya.

Di kawasan tersebut juga terdapat SD Negeri Kadupugur dan SD Negeri Leuwidinding, dengan murid berasal dari Desa Wangunreja dan Desa Tanjungsari.

Baca Juga: SMPN 1 Jampangkulon Gelar Edukasi Gizi Serentak Peringati HGN ke-66

Kerusakan jembatan diduga kuat akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan luapan Sungai Cimandiri dan menggerus tanggul penyangga jembatan.

“Perahu karet sangat membantu, tapi risikonya tinggi saat hujan besar. Kami berharap pemerintah segera melakukan penanganan cepat dan permanen,” tegas Dilah.

Kekhawatiran juga dirasakan warga. Popi, salah satu orang tua siswa, mengaku cemas setiap kali harus mengantar anaknya menyeberang sungai.

Saat debit air meningkat, warga terpaksa memutar jauh melewati jalur alternatif kawasan perusahaan PT Siam Cement Group.

“Kalau sungai meluap, harus mutar jauh, jaraknya bisa tiga kali lipat. Itu pun tergantung kondisi dan izin,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page