CAKRAWALAJAMPANG – Anggota DPRD Kota Sukabumi, Abdul Kohar, menilai penolakan bantuan asing oleh kepala daerah sebagai sikap yang kurang bijak di tengah situasi darurat bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh. Ia menilai penolakan tersebut tidak seharusnya didasarkan pada pertimbangan gengsi semata.
Menurut Abdul Kohar, Indonesia selama ini dikenal aktif memberikan bantuan kemanusiaan kepada negara lain yang tertimpa bencana. Namun ketika bantuan serupa ditawarkan kepada Indonesia, justru ditolak dengan alasan menjaga martabat dan harga diri bangsa.
“Kita ini negara yang sering mengirim bantuan ke luar negeri. Tapi saat ada negara lain ingin membantu kita, kenapa justru ditolak?” ujar Abdul Kohar, Sabtu (20/12/2025).
Baca Juga: Pemkot Sukabumi Gelar Operasi Gabungan Tempat Hiburan Malam Jelang Nataru
Ia menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia mampu menangani bencana sendiri dan harus menjaga martabat negara perlu dikaji lebih dalam. Terlebih, kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak masyarakat terdampak yang merasa belum mendapatkan penanganan maksimal dari negara.
“Saya sepakat martabat itu penting. Tapi di sisi lain, rakyat yang terdampak langsung justru merasa negara belum hadir secara maksimal,” katanya.
Abdul Kohar menyoroti aksi pengibaran bendera putih oleh sebagian warga di Aceh. Menurutnya, tindakan tersebut bukan sekadar simbol menyerah, melainkan bentuk protes atas lambannya penanganan serta minimnya kehadiran negara di tengah penderitaan masyarakat.
Ia juga mengkritisi kehadiran sejumlah pejabat ke lokasi bencana yang dinilai lebih bersifat seremonial dan justru memicu kritik publik.
“Yang dirasakan masyarakat, pejabat datang bukan untuk membawa solusi, tapi terkesan mencari sensasi dan publisitas,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Sukabumi Gelar Operasi Gabungan Tempat Hiburan Malam Jelang Nataru
Lebih lanjut, Abdul Kohar menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari wibawa atau gengsi, melainkan dari keberanian untuk merendahkan diri demi menyelamatkan nyawa rakyat.
“Hari ini yang diselamatkan justru gengsi, bukan manusia. Harga diri ditegakkan, sementara nyawa rakyat dipertaruhkan,” tegasnya.
Dalam perspektif moral dan agama, ia menilai penyelamatan nyawa manusia harus menjadi prioritas utama. Bahkan dalam kondisi darurat, hal-hal yang semula dianggap tabu atau dilarang dapat dibenarkan demi keselamatan umat.
“Yang seharusnya memalukan itu bukan menerima bantuan, tapi mengemis utang ke asing dengan bunga yang menumpuk,” katanya.
Ia menutup pernyataannya dengan meneladani kepemimpinan Umar bin Khattab, yang menurutnya selalu merasa takut dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan ketika rakyatnya menderita.
“Dalam Islam, kepemimpinan bukan soal gengsi, tapi amanah. Dan amanah selalu lebih berat daripada jabatan,” pungkas Abdul Kohar.












