CAKRAWALAJAMPANG – Upaya Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Sukabumi melalui pengelola Museum Palagan Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, dalam meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus mendekatkan nilai-nilai sejarah kepada generasi muda, terus dilakukan melalui berbagai kegiatan edukatif. Salah satunya dengan menggelar lomba drama kabaret yang melibatkan pelajar tingkat SLTA.
Dalam ajang tersebut, Teater 17 tampil sebagai satu-satunya perwakilan dari wilayah Sukabumi Selatan. Meski harus menghadapi berbagai keterbatasan fasilitas serta jauhnya jarak tempuh menuju lokasi kegiatan, semangat para anggota teater tidak surut untuk tetap berpartisipasi dan memberikan penampilan terbaik.
Baca Juga: Presiden Prabowo Serahkan 50.030 Rumah Subsidi, Tegaskan Negara Hadir untuk Rakyat
Bahkan, kondisi haru menyelimuti persiapan penampilan Teater 17. Salah satu pemain, Aji, terpaksa harus pulang lebih dulu dengan menyewa angkutan kota pada malam hari, menempuh jalur Palabuhanratu–Kiara Dua–Waluran hingga Ciracap di tengah hujan deras. Keputusan itu diambil lantaran sang ibu meninggal dunia di Pasir Panjang, Ciracap, sesaat sebelum jadwal tampil. Peran Aji pun harus digantikan secara mendadak oleh kru lain dengan persiapan yang sangat terbatas.
Namun demikian, keterbatasan dan cobaan tersebut tidak menghalangi Teater 17 untuk tetap tampil maksimal. Usaha dan kerja keras itu berbuah manis. Teater 17 berhasil menorehkan prestasi dengan meraih kategori Skenario Terbaik dalam lomba drama kabaret tersebut.
Baca Juga: Gengsi Terima Bantuan Asing untuk Bencana Sumatera, Legislator PKS: Persoalan Nyawa Jauh Lebih Penting
Pengurus Teater 17, Ayah Arif, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian para anggotanya.
“Kami berangkat dengan segala keterbatasan, baik fasilitas maupun jarak. Bahkan secara emosional anak-anak diuji dengan musibah yang menimpa salah satu pemain. Tapi Alhamdulillah, mereka tetap solid dan bertanggung jawab sampai akhir. Penghargaan skenario terbaik ini adalah bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya,” ujar Ayah Arif.
Ia berharap, kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan sebagai ruang ekspresi seni sekaligus media edukasi sejarah bagi generasi muda, khususnya pelajar di Kabupaten Sukabumi.
“Semoga ke depan perhatian terhadap teater pelajar, terutama di wilayah selatan Sukabumi, bisa semakin ditingkatkan. Anak-anak ini punya potensi besar jika terus diberi ruang dan kesempatan,” pungkasnya.












