CAKRAWALAJAMPANG – Sebelum televisi, ponsel pintar, dan platform digital marak, masyarakat Indonesia mengenal satu bentuk hiburan rakyat yang begitu populer: layar tancap. Bioskop keliling dengan layar putih yang didirikan di tempat terbuka ini dulu menjadi tontonan massal yang selalu ditunggu-tunggu warga, terutama di acara hajatan seperti pernikahan atau khitanan.
Layar tancap mulai hadir di Indonesia pada awal abad ke-20, dibawa oleh pihak kolonial Belanda yang mendirikan bioskop pertama di Tanah Abang pada tahun 1900. Di masa Pendudukan Jepang, hiburan ini bahkan dimanfaatkan sebagai media propaganda melalui organisasi Jawa Enhai.
Baca Juga: Kades Cipeundeuy Lakukan Kunjungan Keliling Ke-Setiap RW dimalam hari Pererat SilaturahmiNamun popularitas layar tancap benar-benar melejit pada dekade 1970–1980-an. Kala itu, pertunjukan film keliling menjadi sarana hiburan utama bagi masyarakat pedesaan. Dengan sistem sederhana—proyektor, genset, dan layar putih yang dipasang di lapangan—penonton berbondong-bondong datang dari berbagai kampung untuk menikmati tontonan malam.
Tak jarang, pemutaran film harus berhenti mendadak saat hujan turun. Dari sinilah muncul istilah legendaris “Misbar” (gerimis bubar), yang menjadi lelucon khas penonton layar tancap. Suasananya akrab dan penuh kehangatan; penonton duduk berdesakan, membaur tanpa sekat.
Film yang diputar pun beragam, mulai dari film laga seperti Si Buta dari Gua Hantu hingga film musikal dangdut yang dibintangi Rhoma Irama.
Di wilayah Sukabumi Selatan, terutama di kawasan VI Jampangkulon, layar tancap menjadi hiburan favorit masyarakat pada era 1980-an. Hampir setiap pekan, pemutaran film digelar di berbagai kampung, menjadikan bisnis layar tancap sebagai usaha yang menjanjikan kala itu.
Wawan, warga Kecamatan Surade, mengenang masa tersebut sebagai era keemasan hiburan rakyat.
“Benar, kalau musim hujan pemutaran film tidak bisa dilakukan di lapangan. Jadi solusinya, film diputar di gedung yang disediakan khusus,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).
Baca Juga: Persib Comeback Dramatis, Tumbangkan Selangor 3–2 di Liga Champions Asia Two 2025/26Pada masa itu, di Surade terdapat dua gedung pemutaran film layar lebar—masing-masing di Kampung Cibarehong, Desa Jagamukti, dan di Kampung Neglasari, Desa Pasiripis. Gedung tersebut menjadi alternatif ketika pertunjukan terbuka terhalang cuaca.
Kini, bangunan-bangunan itu telah tiada. Layar tancap pun perlahan hilang seiring pesatnya perkembangan teknologi dan maraknya hiburan digital. Namun bagi warga Pajampangan, khususnya masyarakat Surade, layar tancap tetap melekat sebagai bagian dari kenangan masa lalu—simbol kebersamaan dan kegembiraan sederhana yang sulit tergantikan.












