Gaya Hiduplife StyleNasionalTeknologi

Larangan Smartphone untuk Anak Menguat di Berbagai Negara, Indonesia Menyusul?

×

Larangan Smartphone untuk Anak Menguat di Berbagai Negara, Indonesia Menyusul?

Sebarkan artikel ini

CAKRAWALAJAMPANG – Penggunaan smartphone oleh anak-anak dan remaja kini menjadi isu global yang semakin serius. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara mulai menerapkan aturan khusus untuk membatasi penggunaan gawai, terutama di lingkungan sekolah dan media sosial. Langkah ini bukan sekadar soal disiplin, melainkan respons atas meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak negatif smartphone terhadap kesehatan fisik dan mental anak.

Di Eropa, kebijakan pembatasan smartphone di sekolah sudah lebih dulu diterapkan. Prancis menjadi salah satu pelopor dengan melarang penggunaan ponsel di sekolah dasar dan menengah sejak 2018. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan fokus belajar dan mengurangi distraksi di kelas. Inggris menyusul dengan mengeluarkan pedoman nasional yang mendorong sekolah melarang ponsel selama jam pelajaran. Sementara itu, Belgia tengah mengkaji kewajiban penerapan “zona bebas smartphone” di sekolah-sekolah.

Baca Juga: Pembentukan Karang Taruna Desa Mekarjaya Masa Bakti 2025

Pemerintah di kawasan ini menilai smartphone tidak hanya mengganggu konsentrasi belajar, tetapi juga berkontribusi pada meningkatnya kasus cyberbullying dan tekanan sosial di kalangan pelajar.

Asia Fokus Batasi Media Sosial dan Waktu Layar

Berbeda dengan Eropa, negara-negara Asia lebih menyoroti penggunaan aplikasi dan media sosial. Jepang mendorong pembatasan waktu layar bagi anak-anak di luar jam sekolah. China secara tegas membatasi akses TikTok khusus anak-anak dengan durasi penggunaan tertentu setiap hari. Korea Selatan juga memperketat regulasi anti-kecanduan, terutama untuk game online dan platform digital.

Internet kini dipandang sebagai tantangan pendidikan baru. Anak-anak dinilai semakin rentan terhadap adiksi digital, konten tidak pantas, serta tekanan sosial yang muncul dari media sosial.

Ancaman Kesehatan Mental Jadi Alasan Utama

Kekhawatiran utama di balik kebijakan ini adalah meningkatnya masalah kesehatan mental pada anak-anak. Sejumlah penelitian menunjukkan paparan layar dan media sosial berlebihan dapat memicu kecemasan, depresi, gangguan citra tubuh, hingga gangguan tidur kronis. Anak-anak yang terlalu sering menggunakan smartphone juga cenderung memiliki kemampuan fokus yang lebih rendah.

Baca Juga: Iwan Gunawan Nahkodai PGRI Surade Periode 2025–2030

Cyberbullying dan tekanan untuk tampil “sempurna” di media sosial menjadi faktor risiko tambahan, terutama pada usia perkembangan emosional yang masih rentan.

Pro dan Kontra Masih Berlanjut

Hingga kini, belum ada kesepakatan global tentang usia ideal anak memiliki smartphone. Sebagian ahli menilai larangan total bukan solusi realistis, mengingat teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan modern. Smartphone juga dianggap bermanfaat untuk pendidikan, komunikasi keluarga, dan literasi digital.

Namun, pihak yang mendukung pembatasan menilai anak-anak belum memiliki kesiapan mental untuk menghadapi dunia digital tanpa pengawasan. Akhirnya, banyak negara memilih jalan tengah: pembatasan ketat, bukan pelarangan total.

Indonesia Mulai Masuk dalam Diskusi

Di Indonesia, belum ada regulasi nasional terkait larangan smartphone bagi anak-anak. Meski begitu, banyak sekolah mulai menerapkan aturan internal, seperti menyimpan ponsel selama jam pelajaran atau membatasi penggunaannya hanya untuk keperluan akademik.

Baca Juga: Al-Fath Tancap Gas di Pulau Buru, Mualaf Center Jadi Mesin Dakwah Baru

Fenomena kecanduan gadget di kalangan anak Indonesia juga semakin mengkhawatirkan. Penggunaan TikTok sejak usia sangat dini, balita yang akrab dengan layar, serta meningkatnya screen time karena orang tua bekerja menjadi sorotan. Para ahli memprediksi Indonesia akan mengikuti tren global, setidaknya dalam regulasi penggunaan smartphone di sekolah.

Masa Depan Anak di Era Digital

Larangan dan pembatasan smartphone bagi anak-anak kini bukan lagi isu teknologi semata, melainkan persoalan kesehatan mental dan masa depan pendidikan. Dunia sepakat bahwa meski kemajuan teknologi tak bisa dihentikan, anak-anak tetap membutuhkan perlindungan agar tumbuh sehat di era digital.

Perdebatan ini masih panjang. Namun satu hal jelas: masa kecil generasi sekarang tidak lagi sama, dan kebijakan teknologi untuk anak akan menjadi salah satu isu global paling krusial di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page