Berita Utama

Bencana Alam Mengguncang Sukabumi: Longsor, Ambruknya Jembatan, dan Banjir

×

Bencana Alam Mengguncang Sukabumi: Longsor, Ambruknya Jembatan, dan Banjir

Sebarkan artikel ini

CAKRAWALAJAMPANG – Sejumlah bencana alam melanda Kabupaten Sukabumi pada Senin (15/12/2025), menyebabkan kerusakan infrastruktur dan lahan pertanian serta mengganggu aktivitas sosial-ekonomi masyarakat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) menyampaikan laporan mengenai kondisi terkini bencana di wilayah tersebut.

Bencana pertama yang terjadi adalah tanah longsor di dua lokasi berbeda, yaitu di Kampung Lio Cilandak, Desa Sirnajaya, Kecamatan Warungkiara, dan Kampung Cigadog, Desa Bantarkalong. Di Lio Cilandak, longsor menutup akses jalan utama Kabupaten pada kilometer 2,5 dengan material sepanjang 25 meter, tinggi 2 meter, dan lebar 8 meter. Akibatnya, lalu lintas warga terganggu. Sementara di Kampung Cigadog, longsor menutupi jalan kabupaten yang berada di dekat Jembatan Cimandiri Leuwi Lalay, menghambat mobilitas kendaraan.

Baca Juga: Rakor Lintas Sektoral Operasi Lilin, Wabup: Agenda Penting Cek Kesiapan Akhir Jelang Nataru

Selain tanah longsor, kerusakan infrastruktur vital juga terjadi akibat ambruknya Jembatan Cikolomeran yang menghubungkan Desa Hegarmanah dengan Desa Bantarkalong. Kejadian ini memutuskan akses antara kedua desa, berdampak pada aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat setempat. Di tempat lain, kerusakan jalan desa juga tercatat di Kampung Bojonghaur, di mana badan jalan amblas sekitar satu meter, membahayakan keselamatan pengendara.

Selain longsor dan kerusakan infrastruktur, Kabupaten Sukabumi juga diterjang banjir bandang di Desa Mekarjaya. Banjir menyebabkan kerusakan besar pada lahan pertanian, dengan sekitar dua hektare lahan terdampak. Kehilangan lahan pertanian ini mengancam mata pencaharian warga yang bergantung pada hasil pertanian.

BPBD Kabupaten Sukabumi juga memantau kondisi cuaca yang terpantau berawan dengan suhu sekitar 24°C dan kelembapan 86%. Hingga laporan ini disampaikan, belum ada peringatan dini terkait cuaca ekstrem. Sebagai langkah mitigasi, BPBD terus melakukan pemantauan intensif menggunakan berbagai aplikasi, termasuk InaRisk dan InaSafe dari BNPB, serta menyebarkan informasi peringatan dini melalui media sosial dan frekuensi radio.

Baca Juga: Ayep Zaki Bertekad Tuntaskan Kemiskinan dan Pengangguran di Kota Sukabumi

BPBD juga menyiagakan sejumlah peralatan untuk mendukung penanganan bencana di lapangan, seperti kendaraan roda empat, chainsaw, dan pompa air. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah rawan longsor dan banjir.

“Warga diminta untuk segera melapor jika terjadi kejadian darurat, dan terus berkoordinasi dengan pihak berwenang,” ujar petugas BPBD Kabupaten Sukabumi.

Pusdalops-PB terus berupaya mencatat dan mengolah data bencana untuk menentukan langkah-langkah penanganan selanjutnya, dengan melibatkan tim reaksi cepat dan petugas lapangan yang siap siaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page