Kabupaten Sukabumi

Ayah Mulai Ambil Peran: GATI Hadirkan Sudut Pandang Baru dalam Pengasuhan Keluarga Sukabumi

×

Ayah Mulai Ambil Peran: GATI Hadirkan Sudut Pandang Baru dalam Pengasuhan Keluarga Sukabumi

Sebarkan artikel ini

CAKRAWALAJAMPANG – Selama bertahun-tahun, percakapan tentang pengasuhan di banyak keluarga di Sukabumi selalu berpusat pada peran ibu. Ayah sering berada di lingkar luar, hadir sebagai pencari nafkah, namun jarang dipandang sebagai figur yang terlibat langsung dalam perkembangan anak.

Kini, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Sukabumi mencoba mematahkan pola lama itu. Lewat Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), pemerintah ingin menunjukkan bahwa ayah bukan sekadar “pendukung”, tetapi elemen penting dalam menciptakan keluarga yang sehat dan stabil.

Kepala DPPKB Kabupaten Sukabumi, Eka Nandang Nugraha, menekankan bahwa GATI bertujuan memulihkan keseimbangan pengasuhan di rumah. “GATI mendorong ayah untuk hadir sebagai pendidik, pengasuh, dan panutan. Anak membutuhkan ayah bukan hanya secara materi, tetapi juga emosional,” ujarnya, Kamis (20/11/2025).

Baca Juga: Kampanye Gemarikan, Tumbuhkan Generasi Cerdas Sehat dan Berdayasaing

Di tingkat desa, penyuluh KB banyak menemukan fenomena yang selama ini tidak banyak terungkap: ayah ingin terlibat, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ada juga yang merasa pengasuhan sepenuhnya adalah ‘urusan ibu’.

Sisi inilah yang coba disentuh oleh GATI mengubah pemahaman dasar tentang peran ayah. Program ini membuka ruang diskusi tentang hubungan ayah-anak, termasuk biaya emosional yang dialami anak ketika figur ayah tidak hadir dalam keseharian mereka.

Baca Juga: Guru Surade Tetap Semangat Gelar Turnamen Voli di Tengah Hujan, Meriahkan HGN dan HUT ke-80 PGRI

Pendekatan ini dipadukan dengan upaya percepatan penurunan stunting di Sukabumi. Studi menunjukkan bahwa ayah yang aktif berpengaruh pada kestabilan keseharian anak: pola makan lebih teratur, kunjungan kesehatan lebih konsisten, dan perkembangan mental lebih baik.

Eka menggarisbawahi bahwa pengasuhan tidak hanya soal merawat anak, tetapi juga membentuk suasana rumah. “Anak butuh lingkungan yang aman dan penuh dukungan. Ayah punya peran strategis di situ,” jelasnya.

Keunikan GATI terletak pada pendekatannya yang fleksibel. Penyuluh KB tidak menunggu ayah datang ke kegiatan, tetapi mendatangi mereka ke rumah, ke ladang, bahkan ke bengkel tempat mereka bekerja.

Materi edukasi dibuat sederhana agar mudah diterapkan, mulai dari mengenali tanda stunting, menemani makan, hingga membangun kebiasaan tidur yang baik.

Baca Juga: Menteri P2MI Dorong SMK Go Global dan Resmikan Pasim Migrant Center Sukabumi

Program ini kemudian diintegrasikan dengan Bina Keluarga Balita (BKB) dan pembinaan keluarga lainnya agar pesan keterlibatan ayah menjadi bagian dari budaya keluarga Sukabumi.

DPPKB menilai bahwa percepatan penurunan stunting tidak cukup hanya dengan intervensi gizi. Ada aspek yang lebih mendasar: bagaimana suatu keluarga berinteraksi dan saling mendukung.

“Jika ayah dan ibu berjalan bersama, fondasi keluarga akan jauh lebih kuat. Dari situlah masa depan anak mulai dibangun,” kata Eka.

Dengan GATI, Sukabumi mencoba menghadirkan narasi baru: ayah bukan hanya berada di balik layar, tetapi berada di garis depan dalam menciptakan generasi yang sehat, percaya diri, dan siap menghadapi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page