Kabupaten Sukabumi

Keluarga Agnes Minta Publik Hentikan Spekulasi: Anes Pergi Setelah Berjuang Melawan TBC Akut

×

Keluarga Agnes Minta Publik Hentikan Spekulasi: Anes Pergi Setelah Berjuang Melawan TBC Akut

Sebarkan artikel ini
ilustrasi orang meninggal. Poto By. pixabay.com

CAKRAWALAJAMPANG – Deretan pertanyaan dan rumor terkait wafatnya seorang perempuan muda di Warudoyong akhirnya menemukan titik terang. Di balik kamar kos yang sunyi, tempat tubuhnya ditemukan dalam kondisi membusuk, tersimpan kisah pilu tentang perjuangan seorang gadis bernama Agnes Nadila, atau akrab disapa Anes (22), asal Palabuhanratu.

Keluarga mengimbau masyarakat untuk menghentikan segala bentuk spekulasi. Agnes bukan korban kekerasan maupun bagian dari cerita gelap yang beredar di publik. Ia meninggal setelah lama berjuang melawan Tuberkulosis (TBC) akut.

Baca Juga: Comro: Camilan Khas Sunda dengan Cita Rasa Pedas Gurih

“Benar, itu keponakan saya. Dia yatim piatu dan anak tunggal,” ujar paman korban, Safari Gunawan, Senin (8/12/2025).

Ucapan itu menggambarkan perjalanan hidup Anes yang sepi. Sejak kecil ia telah kehilangan kedua orang tuanya dan dibesarkan oleh sang nenek hingga lulus SMA.

Menurut Safari, kondisi kesehatan Agnes menurun drastis dalam beberapa bulan terakhir. Kontak terakhir keluarga dengan Agnes terjadi pada 30 November 2025. Saat itu, ia mengeluhkan sakit dan pembengkakan pada kakinya. Keluarga sudah memintanya pulang untuk menjalani pengobatan jangka panjang, namun pesan itu tidak pernah dibalas.

“Kami ingin merawatnya. Sudah kami minta kembali supaya bisa berobat enam bulan, tapi tidak ada respons,” kata Safari menahan haru.

Baca Juga: Hari Bakti PU, Bupati ” Momentum Perkuat Komitmen Pengabdian

Riwayat hidup Agnes juga terbilang berat. Setelah nenek yang membesarkannya meninggal, Agnes sempat tinggal di Palabuhanratu. Ia pernah bekerja di perbankan, kemudian mencoba pekerjaan di tempat karaoke meski hanya berlangsung beberapa hari. Hidupnya bergerak tak pasti, seolah mencari pijakan baru.

Laporan medis menyebutkan, Agnes telah meninggal sekitar empat hari sebelum ditemukan. Keterangan tersebut sesuai dengan saksi yang terakhir melihatnya pada 1 Desember, saat ia menitipkan makanan kepada penjaga kos. Tidak ditemukan tanda-tanda mencurigakan, sehingga keluarga menolak autopsi.

Jenazah Anes dimakamkan di TPU Batusapi, Palabuhanratu, pada hari yang sama. Suasana pemakaman berlangsung sederhana, sunyi, namun penuh keikhlasan dari pihak keluarga.

“Kami menerima. Sakitnya jelas. RT pun menguatkan, tidak ada yang kami curigai,” tegas Safari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page