Gaya HidupGerbang Desa

Menanam di Tengah Ketidakpastian: Kisah Harapan Petani dan Bumi yang Lelah

×

Menanam di Tengah Ketidakpastian: Kisah Harapan Petani dan Bumi yang Lelah

Sebarkan artikel ini
Para petani yang sedang bekerja di persawahan di salah satu daerah.

CAKRAWALAJAMPANG – Ketika tanah semakin kehilangan kesuburannya dan cuaca kian sulit ditebak, petani Indonesia tetap menggenggam harapan melalui benih-benih yang mereka tanam. Namun, di balik keteguhan itu, ancaman perubahan iklim dan alih fungsi lahan terus membayangi masa depan pangan nasional.

Dilansir dari Suara.com, data Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, lebih dari 29 persen tenaga kerja Indonesia menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Sayangnya, sektor vital ini tengah berhadapan dengan tekanan berat akibat deforestasi, degradasi lahan, kekeringan, dan ketergantungan tinggi terhadap pupuk kimia.

“Tekanan lingkungan yang terus meningkat membuat produktivitas pertanian kita kian menurun setiap tahunnya,” jelas Sidi Rana Menggala, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, saat berbicara di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Jum’at, (7/11/2025).

Baca Juga: Teh Herbal Ampuh Bantu Redakan Flu, Ini 3 Jenis yang Paling Direkomendasikan

Organisasi lingkungan Greenpeace menyebut perubahan iklim sebagai tantangan terbesar bagi petani masa kini. Pola hujan yang tidak menentu membuat musim tanam sulit ditebak. Dalam satu waktu, hujan bisa turun dengan deras hingga menimbulkan banjir, sementara di waktu lain, kekeringan melanda berkepanjangan.

Greenpeace menekankan bahwa perubahan cara bertani adalah langkah penting dalam menghadapi krisis ini. Pertanian organik dan sistem berkelanjutan dianggap sebagai solusi yang paling menjanjikan untuk menjaga keseimbangan antara hasil panen dan kelestarian lingkungan.

Meski potensinya besar, perjalanan menuju pertanian berkelanjutan tidak semudah yang dibayangkan. Sidi mengungkapkan bahwa hambatan utama justru datang dari keterbatasan modal dan pengetahuan teknis di kalangan petani kecil.

“Bagi lembaga keuangan, usaha tani skala kecil dianggap berisiko tinggi, sehingga sulit mendapatkan pembiayaan,” ungkapnya.

Baca Juga: Bupati Sukabumi Dan RSUD Sekarwangi Salurkan Alat Bantu Latihan Jalan Untuk Warga Penderita Stroke di Kalapanunggal

Selain itu, masih banyak petani yang belum familiar dengan teknik pertanian organik, agroforestri, maupun pemasaran produk hijau. Bahkan, rantai pasok untuk produk berkelanjutan pun belum kokoh banyak pasar belum siap membayar harga lebih untuk hasil panen ramah lingkungan.

“Nilai tambah produk berkelanjutan belum benar-benar dihargai oleh pasar,” tegas Sidi.

Tak hanya itu, masa peralihan menuju sistem ramah lingkungan seringkali membuat hasil panen menurun sementara waktu, sehingga petani ragu untuk beralih sepenuhnya.

Di tengah kompleksitas tersebut, GEF SGP Indonesia hadir sebagai katalisator perubahan. Program ini mendukung komunitas petani untuk berinovasi, memberikan pendanaan awal, serta menjalin kemitraan lintas sektor guna memperkuat praktik pertanian berkelanjutan di tingkat lokal.

Baca Juga:Riding for Humanity: Satu Aspal, Satu Aksi di Tanah Cisolok

“Kami berfokus pada pendekatan berbasis komunitas dan inovasi lokal agar petani bisa mandiri dan berdaya secara ekonomi maupun ekologis,” ujar Sidi.

Senada dengan itu, Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta, MS, Menteri Lingkungan Hidup, menilai bahwa GEF SGP berperan penting dalam membangun inisiatif lokal yang berdampak global.

Program yang telah berjalan melalui tujuh fase kegiatan selama tiga dekade ini menjadi bagian dari gerakan internasional bertajuk Three Decades of Local Action for People and Planet sebuah wujud nyata aksi lokal untuk perubahan global.

Kini, berkat dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, praktik pertanian berkelanjutan mulai mengakar di sejumlah daerah di Indonesia. Langkah-langkah kecil yang dijalankan oleh petani lokal membawa secercah harapan baru: masa depan pertanian yang tidak hanya produktif, tapi juga selaras dengan alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page