Kabupaten Sukabumi

Jembatan Rapuh di Ciracap, Napas Tersisa Penghubung Dua Desa

×

Jembatan Rapuh di Ciracap, Napas Tersisa Penghubung Dua Desa

Sebarkan artikel ini

CAKRAWALAJAMPANG – Di atas aliran Sungai Bojong Gadog yang tenang di Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, berdiri sebuah jembatan tua yang kini menua bersama waktu. Besi-besinya tampak lapuk, papan kayu yang menopang badan jembatan mulai berlubang, dan di beberapa bagian, rangkanya sudah anjlok ke bawah, seolah menunggu waktu untuk benar-benar patah.

Jembatan itu menjadi satu-satunya penghubung antara Desa Cikangkung dan Desa Ujunggenteng. Namun, kini akses penting tersebut nyaris terputus. Mobil sudah tak bisa lagi melintas. Hanya sepeda motor yang masih berani mencoba menyeberang — itupun dengan langkah yang sangat hati-hati, pelan, dan penuh waswas.

Baca Juga: Baznas Sukabumi Kunjungi Desa Cikahuripan, Bawa Harapan di Tengah Duka Pascabencana

Nanang (85), warga Desa Cikangkung yang sudah puluhan tahun tinggal tak jauh dari jembatan, menyaksikan perubahan itu dengan rasa cemas. “Ini penghubung dua desa, udah dibangun kurang lebih 20 tahun lebih,” katanya dengan suara bergetar. “Sekarang tolong saya sebesar-besarnya kepada bapak Gubernur, bapak KDM, tolong bantu. Saya sudah sering mengadukan ke kepala desa, tapi belum ada jawaban.”

Menurutnya, kerusakan jembatan mulai terlihat sekitar dua bulan terakhir. Awalnya hanya sedikit anjlok, namun kini kondisinya semakin mengkhawatirkan. “Untuk motor masih bisa lewat, tapi harus hati-hati banget karena lobangnya udah dalam,” tambahnya.

Lebih dari sekadar jalur penghubung dua desa, jembatan ini menjadi urat nadi kehidupan warga sekitar. Setiap pagi, pelajar dari Desa Ujunggenteng menyeberangi jembatan menuju sekolah di Cikangkung. Di sore hari, warga lalu-lalang membawa hasil kebun, bahan bangunan, atau sekadar berkunjung ke sanak keluarga di seberang sungai.

Baca Juga: Mengenal Padel, Olahraga Seru yang Lagi Hits

“Anak sekolah juga yang lewat sini kasihan, apalagi kalau nanti benar-benar putus, mereka gak bisa ke sekolah,” ucap Nanang lirih.

Kini, jembatan Bojong Gadog seakan menunggu nasibnya. Berdiri rapuh di antara dua desa, menanggung beban langkah-langkah warga yang masih bergantung padanya. Di bawahnya, air sungai terus mengalir pelan — membawa harapan agar suatu hari nanti, bantuan benar-benar datang dan jembatan itu bisa kembali kokoh, seperti dulu saat pertama kali dibangun dua dekade silam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page