CAKRAWALAJAMPANG – Di tanah Pajampangan yang hijau dan bertuah, nama Eyang Santri Dalem tak pernah pudar oleh zaman. Tokoh besar yang juga dikenal sebagai Eyang Cigangsa ini dipercaya sebagai sosok yang membuka jalan lahirnya Surade sebuah daerah yang kini menjadi denyut kehidupan Sukabumi selatan.
Kamaludin (73), keturunan beliau yang tinggal di Pasir Karang, Surade, menuturkan bahwa tokoh ini memiliki nama asli Raden Suranangga, putra dari Raden Arya Adipati Jagabaya, Bupati Galuh Imbanagara pada abad ke-18. Pada masa kekuasaan Mataram, saat penjajahan Belanda mengguncang ketentraman negeri, Jagabaya mengungsikan keturunannya demi menjaga kesinambungan perjuangan.
Baca juga: Waspada Penipuan, Modus Hoaks Catut Nama Kepala DPU Kabupaten Sukabumi
Salah satu dari mereka adalah Raden Suranangga. Bersama istrinya yang setia, Ming Maung Mangale-ngale Jukung, ia menempuh perjalanan jauh ke arah barat pada awal 1750. Mereka tiba di sebuah hamparan perbukitan yang kelak dikenal sebagai Surade. Di kawasan Pasirkanyere kini tak jauh dari Terminal Surade ia membuka pemukiman pertama. Kepergian itu bukan sekadar pelarian, melainkan awal dari sebuah sejarah.
Dari Santri Menjadi Ulama Besar

Tahun 1775 menjadi titik balik. Raden Suranangga memilih menimba ilmu agama di Sindangkasih, Ciamis, berguru kepada Ajengan Idris. Sepulang dari perjalanan ilmunya, ia membangun sebuah pondok pesantren yang kelak menjadi pusat penyebaran Islam di Surade: Pesantren Batu Suhunan atau Batu Masigit. Nama pesantren itu kini terabadikan sebagai nama kampung di Kelurahan Surade.
Baca Juga: Surade Peringati Hari Jadi ke-267 dengan Ziarah Khidmat ke Makam Pencetus Nama Surade
Karisma dan kepemimpinannya membuat beliau dipercaya memegang jabatan bupati di Ladeh, kawasan Wado, Sumedang, pada 1811. Namun, perjalanan panjang itu mencapai akhir pada tahun 1817. Eyang Santri Dalem wafat dan dimakamkan di Kampung Cigangsa, Desa Kadaleman, yang kini menjadi salah satu makam keramat yang ramai diziarahi.
Warisan Sang Leluhur Tak Pernah Mati
Nama besar Eyang Santri Dalem tak hanya hidup dalam cerita tutur. Pemerintah Kabupaten Sukabumi pun mengabadikannya sebagai nama jalan utama, penghubung Kelurahan Surade dengan Desa Kadaleman dan Caringinnunggal. Peresmian itu dilakukan oleh Bupati Sukmawijaya sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar sang ulama.
Kisah perjuangannya tercatat pula dalam Piagam Sunan Nalagangsa (Batok Putih) dokumen penting sejarah Pajampangan. Pesantren yang ia rintis masih berdiri tegak, diteruskan oleh keturunannya, menjadi cahaya ilmu untuk generasi masa kini.
Eyang Santri Dalem bukan sekadar nama dalam sejarah. Ia adalah pondasi identitas Surade. Ia adalah jejak awal peradaban Pajampangan. Warisan perjuangannya terus hidup dan menyala di bumi selatan Sukabumi.












