Nasional

IHSG Ambruk, Pejabat BEI–OJK Berguguran: Krisis Kepercayaan Terparah Sejak 1998

×

IHSG Ambruk, Pejabat BEI–OJK Berguguran: Krisis Kepercayaan Terparah Sejak 1998

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (Dok Kemenkeu)

CAKRAWALAJAMPANG – Guncangan besar menghantam pasar keuangan nasional. Setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk dua hari berturut-turut, lima pejabat kunci sektor pasar modal—yang membidangi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)—memutuskan mundur dari jabatannya. Langkah beruntun ini memicu sinyal darurat di tengah rapuhnya kepercayaan investor.

Kondisi pasar disebut sebagai yang terburuk sejak krisis moneter 1998. Anjloknya IHSG bukan sekadar gejolak teknis, melainkan cerminan kepanikan struktural di sektor keuangan. Pengamat memperingatkan, morat-marit ini berpotensi menambah beban fiskal negara dan merembet ke sektor riil yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

Baca Juga: Pertamina Turunkan Harga BBM Non-Subsidi Per 1 Februari 2026

Krisis dipicu oleh penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 27 Januari terkait transparansi dan tata kelola pasar saham domestik. Dampaknya brutal, IHSG longsor hingga 16,7 persen hanya dalam dua hari perdagangan (28–29 Januari). Meski indeks sempat menguat tipis pada penutupan Jumat (30/1), kekhawatiran investor belum sepenuhnya sirna.

Di tengah upaya pasar untuk bangkit perlahan, Direktur Utama BEI Iman Rachman secara mengejutkan mengumumkan pengunduran diri. Beberapa jam berselang, pejabat OJK ikut berbondong-bondong melepas jabatan, memicu spekulasi soal stabilitas kebijakan pasar ke depan.

Merespons situasi genting tersebut, pemerintah menggelar rapat koordinasi internal bersama OJK, Danantara, dan perwakilan Self-Regulatory Organization (SRO) di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1).

Namun, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menilai langkah yang diambil otoritas justru menunjukkan kepanikan. “Sebagian kebijakan yang muncul terlihat reaktif dan mencerminkan kepanikan. Jika ini berlanjut, dampaknya bisa merugikan industri keuangan secara luas,” ujar Bhima.

Baca Juga: Jalan Merbabu Mandek, Wali Kota Sentil Lemahnya Koordinasi DPUTR

Sementara itu, Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky Hasan, menegaskan bahwa dampak pengunduran diri pejabat belum bisa disimpulkan. “Arah pasar ke depan sangat tergantung pada siapa penggantinya dan kebijakan apa yang akan ditempuh setelah ini,” katanya.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru memberikan respons positif terhadap langkah mundur para pejabat tersebut. “Ini bentuk tanggung jawab terhadap masalah di bursa kemarin. Kesalahan fatalnya adalah tidak menindaklanjuti masukan atau pertanyaan dari MSCI, sehingga pasar menganggap ekonomi kita tidak stabil, padahal fundamental kita sebenarnya kuat,” tegas Purbaya.

Kini, sorotan publik dan pelaku pasar tertuju pada langkah lanjutan pemerintah dan regulator, di tengah kekhawatiran bahwa krisis kepercayaan ini bisa menjadi bom waktu bagi stabilitas ekonomi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page