CAKRAWALAJAMPANG – Ada masa dalam hidup yang jika diingat, rasanya seperti membuka album foto lama yang penuh warna. Masa kecil, terutama saat bulan Ramadhan, selalu punya tempat istimewa di hati. Bukan karena menu berbukanya mewah, bukan pula karena suasananya serba sempurna, tapi karena Ramadhan waktu itu terasa begitu sederhana, hangat, dan menyenangkan.
Bagi anak-anak, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ramadhan adalah bulan penuh petualangan. Bulan yang identik dengan keceriaan, kebersamaan, dan tradisi-tradisi unik yang hanya bisa dirasakan sekali dalam setahun. Ada banyak momen ikonik yang hingga kini masih melekat kuat di ingatan: berburu takjil, tarawih bersama teman-teman, membangunkan sahur keliling kampung, bermain petasan, mengisi buku kegiatan Ramadhan, hingga menanti libur sekolah yang rasanya seperti hadiah paling besar.
Baca Juga: Alarm Sampah dari Presiden, Pemkot Sukabumi Percepat Langkah Penyelesaian dari Hulu-Hilir
Keliling Kampung, Membangunkan Sahur
Salah satu tradisi yang paling membekas adalah membangunkan sahur. Anak-anak kecil dengan semangat yang kadang melebihi orang dewasa, berkeliling kampung membawa alat musik seadanya. Ada yang membawa kentongan, botol bekas, kaleng biskuit, bahkan ada juga yang sekadar berteriak ramai-ramai sambil tertawa.
Di beberapa tempat, bedug masjid menjadi pusat perhatian. Dipukul keras-keras seolah sedang menggelar konser besar. Padahal, alatnya sederhana dan iramanya kadang tidak beraturan. Tapi justru di situlah letak serunya. Yang penting warga bangun, dan kami merasa menjadi “pahlawan sahur” untuk satu kampung.
Tradisi ini bukan hanya tentang membangunkan orang, melainkan juga tentang kebersamaan. Tentang bagaimana anak-anak belajar bergaul, bekerja sama, dan merasakan semangat Ramadhan secara nyata di jalanan kampung yang sunyi.
Tarawih Bersama Teman, Bukan Keluarga
Jika siang hari diisi dengan bermain dan menunggu waktu berbuka, maka malam Ramadhan punya cerita sendiri. Tarawih menjadi agenda wajib, namun yang menarik, seringkali bukan bersama keluarga.
Anak-anak lebih memilih berangkat ke masjid dengan teman-teman. Bukan karena tidak ingin bersama orang tua, melainkan karena tarawih adalah ajang kumpul. Ada semangat yang berbeda ketika berjalan ramai-ramai, bercanda di jalan, dan berlomba-lomba mendapat saf terbaik, meskipun ujungnya sering berakhir dengan saling dorong kecil dan tertawa pelan.
Namun, tarawih masa kecil juga punya “misi khusus” yang tidak kalah penting: buku agenda Ramadhan.
Buku Agenda Ramadhan, Harta Karun Anak Sekolah
Bagi anak sekolah, Ramadhan selalu identik dengan buku kegiatan. Buku kecil yang berisi kolom shalat, puasa, tadarus, dan ceramah. Setiap selesai tarawih atau mendengar tausiyah, anak-anak akan berebut meminta tanda tangan imam atau penceramah.
Buku itu menjadi seperti tiket prestasi. Semakin penuh tanda tangan, semakin besar rasa bangga. Bahkan ada yang sampai menunggu lama setelah tarawih hanya demi satu coretan tinta.
Lucunya, agenda tarawih kadang bukan lagi soal ibadah semata, tapi soal “misi mengumpulkan bukti kegiatan”. Namun dari sanalah, tanpa disadari, anak-anak belajar disiplin dan mengenal suasana masjid lebih dekat.
Baca Juga: Momentum HPN 2026, Kapolres Sukabumi Kota Tegaskan Pers Mitra Strategis Kamtibmas
Ngabuburit dan Permainan yang Tak Pernah Membosankan
Menjelang maghrib, suasana kampung biasanya berubah ramai. Anak-anak berkeliaran, mencari kegiatan untuk mengusir rasa lapar. Inilah waktu yang paling ditunggu: ngabuburit.
Ngabuburit masa kecil sering diisi dengan permainan sederhana tapi menyenangkan. Ada yang bermain petasan, perang sarung, atau sekadar nongkrong di masjid menunggu waktu berbuka. Bahkan berjalan-jalan mencari keramaian pun sudah cukup membuat sore terasa cepat berlalu.
Bermain petasan memang jadi kenangan yang sulit dilupakan. Bunyi ledakan kecil yang membuat jantung berdebar, teriakan teman-teman yang berlari, hingga aroma mesiu yang khas. Meski sering dimarahi orang tua, petasan seolah menjadi “tradisi wajib” yang selalu ada dalam cerita Ramadhan masa kecil.
Perang sarung pun tak kalah legendaris. Sarung digulung rapi, dijadikan senjata, lalu anak-anak berlarian penuh tawa. Kadang ada yang menangis karena kena pukul terlalu keras, tapi beberapa menit kemudian sudah tertawa lagi.
Berburu Takjil dan Menunggu Waktu Berbuka
Saat adzan maghrib semakin dekat, satu hal yang selalu membuat hati bahagia adalah takjil. Berburu takjil menjadi kegiatan yang penuh keseruan. Tidak harus membeli mahal, bahkan cukup dengan kolak, es campur, gorengan, atau sekadar teh manis hangat.
Bagi anak kecil, takjil sederhana terasa sangat istimewa. Ada rasa nikmat yang berbeda setelah seharian menahan lapar. Satu butir kurma atau sepotong gorengan bisa terasa seperti makanan terbaik di dunia.
Momen berbuka juga penuh kebersamaan. Ada yang berbuka di rumah bersama keluarga, ada juga yang berbuka di masjid dengan teman-teman. Tak jarang makanan dibagi-bagi, saling mencicipi, dan di situlah rasa persaudaraan kecil tumbuh tanpa disadari.
Ramadhan Masa Kecil: Puasa yang Terasa Menyenangkan
Hal yang paling dirindukan dari Ramadhan masa kecil adalah perasaan ringan dan bahagia. Puasa saat itu tidak terasa membebani, karena pikiran belum dipenuhi urusan pekerjaan, tanggung jawab, atau masalah orang dewasa.
Yang ada hanyalah rasa ingin tahu dan kegembiraan. Bangun sahur jadi petualangan, tarawih jadi ajang kumpul, ngabuburit jadi waktu bermain, dan berbuka jadi hadiah manis setelah perjuangan seharian.
Ditambah lagi, ada satu hal yang membuat anak-anak semakin bersemangat: libur sekolah sebulan penuh. Rasanya seperti Ramadhan adalah bulan istimewa yang bukan hanya membawa ibadah, tapi juga membawa kebahagiaan yang panjang.
Kenangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Kini, ketika usia bertambah, Ramadhan tetap datang dengan suasana yang sama, namun rasanya berbeda. Masjid masih ramai, takjil masih berlimpah, tarawih masih berlangsung setiap malam. Tetapi, tawa anak-anak yang dulu kita rasakan seolah tinggal menjadi gema dalam ingatan.
Kadang kita rindu berjalan ke masjid bersama teman-teman tanpa beban. Rindu meminta tanda tangan imam di buku agenda. Rindu membangunkan sahur keliling kampung sambil memukul kaleng dan kentongan. Rindu bermain petasan atau perang sarung sampai dimarahi orang tua. Bahkan rindu menunggu adzan maghrib dengan perut lapar, tapi hati bahagia.
Ramadhan masa kecil mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam hal-hal paling sederhana.
Dan mungkin, di antara semua kenangan itu, tarawih bersama teman-teman adalah salah satu momen paling ikonik yang membuat kita sadar: masa kecil memang tidak akan terulang, tapi kenangannya akan selalu hidup, terutama setiap kali Ramadhan kembali datang. ( jajang Suhendar)












