CAKRAWALAJAMPANG – Pemerintah Rusia pada akhir Desember 2025 mengumumkan berhasil menggagalkan dugaan serangan drone yang dituding diluncurkan Ukraina ke salah satu kediaman Presiden Vladimir Putin di wilayah Novgorod, Rusia barat laut. Otoritas Rusia menyebut sekitar 91 drone jarak jauh terdeteksi dan seluruhnya berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara, tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan signifikan.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut insiden tersebut sebagai tindakan terorisme yang bertujuan mengganggu proses negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina yang tengah berlangsung. Ia menegaskan, peristiwa itu akan berdampak pada sikap Rusia yang semakin keras dalam perundingan ke depan.
Bac Juga: Pengusaha Muda Pajampangan Sambut Hadirnya Toko Besi Mekar Baja Prioritas
Presiden Rusia Vladimir Putin juga dilaporkan menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui sambungan telepon untuk menyampaikan informasi terkait insiden tersebut. Trump dikabarkan menyatakan kemarahannya atas laporan serangan itu. Meski demikian, Amerika Serikat dan sejumlah pihak internasional menyatakan belum dapat memverifikasi klaim Rusia secara independen.

Di sisi lain, Ukraina dengan tegas membantah seluruh tuduhan tersebut. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut klaim serangan drone itu sebagai “rekayasa sepenuhnya” yang bertujuan menggagalkan upaya perdamaian serta menciptakan pembenaran bagi eskalasi militer lebih lanjut. Pemerintah Ukraina juga menegaskan tidak ada bukti kredibel yang menunjukkan keterlibatan pasukan Kyiv dalam insiden tersebut.
Baca Juga : Sambut 2026, Pemkab Sukabumi Gelar Doa Lintas Agama
Pejabat Ukraina menambahkan bahwa pihaknya hanya menargetkan sasaran militer yang sah dan menolak keras tuduhan menyerang kediaman seorang kepala negara. Sejumlah negara Barat, termasuk Austria, turut menyatakan sikap skeptis dan menilai klaim Rusia belum didukung bukti independen yang dapat diverifikasi.
Ketegangan ini muncul di tengah upaya diplomatik yang terus dilakukan untuk mencapai kesepakatan damai. Sejumlah analis menilai klaim dan bantahan yang saling bertentangan tersebut mencerminkan dinamika konflik Rusia–Ukraina yang masih terus memanas.












