CAKRAWALAJAMPANG — BKKBN bersama Mitra Kerja TA 2025 kembali menggelar sosialisasi Program Bangga Kencana di Kampoeng Wisata Gowes, Serua, Bojongsari, Kota Depok. Kegiatan ini menghadirkan ratusan peserta dari unsur keluarga, remaja, kader, serta tokoh masyarakat, dengan narasumber dari DPR RI, BKKBN pusat, dan Pemerintah Kota Depok, Sabtu (15/11/2025).
Anggota Komisi IX DPR RI, H. Asep Romy Romaya, SE, menegaskan bahwa Bangga Kencana merupakan fondasi dalam pembangunan keluarga berkualitas. Ia berharap sosialisasi ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan stunting dan memperkuat prinsip Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) untuk membentuk keluarga yang harmonis serta berketahanan.
Dari Direktorat Bina Akses Pelayanan KB, Dr. Noer Aziza, M.Biomed, memaparkan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045. Remaja, ujarnya, perlu memahami perubahan pubertas, menjaga kesehatan reproduksi, dan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Ia menyoroti masih tingginya kasus pernikahan dini, kehamilan tidak diinginkan, HIV/AIDS, penyalahgunaan narkoba, dan kekerasan seksual yang dipicu minimnya literasi reproduksi dan anggapan tabu terhadap pendidikan seksualitas.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si, memaparkan kondisi kependudukan provinsi. Jawa Barat mencatat sekitar 485 ribu kelahiran, 335 ribu pernikahan, dan 907 ribu kehamilan per tahun.
Ia juga mengungkapkan masih tingginya jumlah keluarga berisiko stunting yang mencapai 1,6 juta jiwa, dengan prevalensi tertinggi di Kabupaten Bandung Barat (30,8%) dan terendah di Kabupaten Cianjur (7,2%). Menurutnya, pembangunan remaja perlu diarahkan pada penguatan IQ, EQ, dan SQ serta pembentukan jejaring pergaulan yang positif.
Kepala Dinas P3AP2KB Kota Depok, drg. Nessi Annisa Handari, menyampaikan bahwa kualitas remaja berperan besar dalam ketahanan negara. Ia menyoroti meningkatnya masalah sosial seperti bullying, rokok, tawuran, seks pranikah, dan penyalahgunaan narkoba. Kehamilan tidak diinginkan pada remaja, tambahnya, dapat memicu gizi buruk pada ibu hamil dan berkontribusi terhadap kelahiran stunting.
Ia mendorong remaja merencanakan masa depan sejak dini dengan mengikuti rekomendasi usia ideal menikah, yakni 25 tahun bagi laki-laki dan 21 tahun bagi perempuan. Pemkot Depok juga telah menyediakan layanan konsultasi remaja di tingkat kelurahan.
Melalui kegiatan ini, seluruh pemangku kepentingan menegaskan komitmen untuk memperkuat peran remaja dalam pembangunan bangsa. Edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, serta pembentukan karakter menjadi pilar penting Bangga Kencana dalam mewujudkan keluarga Indonesia yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.












