Internasional

Puluhan Penambang Tewas Dalam Tragedi Runtuhnya Jembatan di Tambang Kalando, Kongo

×

Puluhan Penambang Tewas Dalam Tragedi Runtuhnya Jembatan di Tambang Kalando, Kongo

Sebarkan artikel ini
Detik Detik runtuhnya jembatan di area tambang tembaga dan kobalt Kalando, Provinsi Lualaba, Republik Demokratik Kongo, pada Sabtu (15/11/2025).

CAKRAWALAJAMPANG – Sedikitnya 32 penambang tewas dalam tragedi runtuhnya jembatan di area tambang tembaga dan kobalt Kalando, Provinsi Lualaba, Republik Demokratik Kongo, pada Sabtu (15/11/2025). Otoritas setempat menyebut jumlah korban masih dapat bertambah karena proses pencarian masih berlangsung.

Menurut keterangan Pemerintah Provinsi Lualaba, insiden terjadi ketika ratusan penambang ilegal memaksa masuk ke area tambang yang sebenarnya telah ditutup karena hujan deras dan risiko longsor. Penumpukan massa di jembatan sempit menyebabkan struktur jembatan tidak mampu menahan beban hingga akhirnya runtuh.

Baca Juga: Preseden Prabowo Terima Duta Besar Pakistan, Bahas Penguatan Kerja Sama Strategis Indonesia-Pakistan

Laporan SAEMAPE—lembaga pengawas tambang skala kecil Kongo—menyebut bahwa sebelum jembatan rubuh, terjadi kepanikan akibat suara tembakan peringatan dari aparat yang berjaga di lokasi. Panik massal itu memicu ratusan penambang berdesakan melintasi jembatan, menyebabkan jembatan patah dan para penambang terperosok ke jurang.

Hingga Minggu malam, pejabat provinsi melaporkan 32 jenazah telah ditemukan. Namun SAEMAPE memperkirakan jumlah korban bisa mencapai 40 hingga 49 orang berdasarkan laporan awal dari lapangan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Resmi Luncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran Indonesia Cerdas 38 Provinsi

Pemerintah Provinsi Lualaba telah menghentikan seluruh aktivitas tambang di kawasan Kalando dan membuka investigasi resmi untuk menentukan penyebab runtuhnya jembatan serta kemungkinan pelanggaran prosedur keamanan.

Tragedi ini kembali menyoroti kondisi penambangan artisanal di Kongo yang kerap berlangsung tanpa standar keselamatan memadai, minim pengawasan, dan sering melibatkan ketegangan antara penambang informal dan aparat keamanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page