Internasional

IEA Peringatkan Potensi Kelebihan Pasokan Minyak Dunia hingga 4 Juta Barel per Hari pada 2026

×

IEA Peringatkan Potensi Kelebihan Pasokan Minyak Dunia hingga 4 Juta Barel per Hari pada 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Tamabng Minyak (FOTO: MNC Media)

CAKRAWALAJAMPANG – Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa pasar minyak global berpotensi mengalami kelebihan pasokan hingga 4 juta barel per hari pada tahun 2026 mendatang. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan menekan harga minyak dunia dan mengguncang stabilitas ekonomi negara produsen.

‎Dalam laporan terbarunya, IEA menyebut bahwa peningkatan kapasitas produksi yang agresif dari sejumlah negara penghasil minyak, seperti Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Brasil, tidak diimbangi dengan pertumbuhan permintaan yang sepadan.

Baca Juga: Sekda Kabupaten Sukabumi Hadiri Rakor Sinergitas Program Strategis Nasional dan Daerah di Jawa Barat

‎“Kami melihat tanda-tanda bahwa pasar bisa mengalami oversupply besar jika produksi tidak disesuaikan dengan proyeksi permintaan,” tulis IEA dalam laporannya yang dikutip dari The Guardian, Kamis (13/11/2025).

‎Lembaga tersebut memproyeksikan bahwa permintaan minyak global akan mulai melambat seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, efisiensi energi, dan kebijakan dekarbonisasi di berbagai negara. Namun, sejumlah produsen besar masih berinvestasi besar-besaran dalam proyek eksplorasi dan infrastruktur baru.

‎“Jika tren saat ini berlanjut, dunia bisa menghadapi kelebihan pasokan sebesar 4 juta barel per hari pada 2026, yang berpotensi menekan harga dan mengganggu neraca fiskal negara penghasil minyak,” tulis IEA.

‎Meskipun begitu, IEA menilai bahwa permintaan minyak masih akan tetap tinggi hingga 2050, terutama untuk sektor industri dan transportasi berat yang sulit beralih ke energi terbarukan.

Baca Juga: DPRD Sukabumi Gelar Paripurna Pandangan Umum Fraksi atas Nota Pengantar Bupati

‎Para analis menilai, potensi kelebihan pasokan ini bisa menjadi peluang bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengatur ulang strategi cadangan minyak nasional.

‎Sementara itu, bagi negara-negara produsen, situasi ini dapat menjadi tantangan serius yang menuntut diversifikasi ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada ekspor migas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page